Chapter 41 - Studio Musik

Name:Nuansa Author:Sihansiregar
Eugene dan Nuansa hingga kini masih berasa di ruang makan. Ini sudah 5 menit berlalu sejak Neptunus, Bulan dan Vega meninggalkan ruangan tersebut. Nuansa masih tidak mencoba untuk memulai pembicaraan karena masih syok, namun perlahan rasa syoknya sudah hilang, dan ia siap untuk membangun topik pembicaraan dengan Eugene.

Baru saja gadis itu akan memulai pembicaraan dengan Eugene, tapi begitu dilihatnya Eugene yang sedang menghabiskan tehnya, ia langsung mengurungkan niatnya sebab ia ingin membiarkan Eugene menghabiskan tehnya dulu.

Eugene meminum tehnya dengan sangat lambat, padahal ia tidak melakukan jeda apa-apa saat meminum teh tersebut, ia hanya meneguknya sedikit-sedikit, tetapi sama sekali tidak melepaskan cangkirnya dari mulutnya.

'Kenapa tehnya tidak habis-habis dari tadi? Dan kurasa dia tidak melepaskan cangkir itu dari mulutnya sejak beberapa menit yang lalu, itu cukup aneh, apa dia meminum tehnya sedikit demi sedikit? Agar apa? Lama habisnya? Tapi teh itu tidak panas lagi, kan? Dan apa bibirnya tidak pegal terus-terusan menahan cangkir itu? Apa begini cara seorang Detektif meminum teh? Ah, apa yang aku pikirkan? Aku ini ada-ada saja, dasar aku,' batin Nuansa, gadis itu lantas menunggu Eugene hingga selesai. Sekitar 30 detik kemudian, Eugene akhirnya menghabiskan tehnya.

"Ah, sudah lama aku tidak minum teh. Teh buatan Huhu memang juara," ucap Eugene pada Nuansa.

"Benarkah?" tanya Nuansa. "Maksudku, sangat aneh mendengar kalau seorang Detektif sudah lama tidak ngeteh," sambung Nuansa.

"Kenapa memangnya?" Eugene bertanya balik.

"Yah ... Kalian kan meneliti, melacak, memecahkan kasus, menyelesaikan masalah dan mengurus banyak hal yang menguras pikiran, jadi kurasa seharusnya para Detektif rajin meminum teh untuk menyegarkan pikiran dan mempermudah mereka untuk menyelesaikan masalah, bukankah begitu?"

"Hmm, benar juga, tapi aku biasanya memakan coklat untuk menyegarkan pikiran dan menaikkan mood, aku juga tidak terlalu suka teh, tapi tidak menolak jika ditawar dan dibuatkan."

"Coklat?"

"Ya, coklat pahit."

"Ew, aku benci coklat pahit."

"Hei, coklat pahit itu mengandung lebih banyak khasiat dari pada coklat manis yang mengandung banyak sekali gula."

"Hmm, tapi ... apa coklat memang bisa menyegarkan pikiran dan menaikkan mood?"

"Untukku begitu, tidak tahu yang lain, kau sendiri bagaimana?"

"Aku? Aku ... Aku biasanya memakan perkedel singkong untuk menaikkan moodku dan menyegarkan pikiranku."

"Perkedel singkong?"

"Ya, buatanku sangat enak, bukan maksud memuji diri sendiri, tapi memang perkedel singkong buatanku enak, kadang jika moodku sedang tidak karuan, ibuku yang membuatkan perkedel singkong untukku, buatannya juga tak kalah enak."

"Mm, kalau begitu kau pasti sangat sehat."

"Memang," ujar Nuansa sembari memamerkan otot-otot lengannya yang kecil, hal ini lalu mengundang tawa Eugene.

"Jadi ... Kau akan menikah dengan bibi Bulan," kata Nuansa.

"Ng, ya, seperti yang Bulan katakan tadi."

"Ok ... Itu artinya kalian akan tinggal bersama di London? Maksudku, kau pahamlah, biasanya setelah menikah, istri akan ikut suaminya."

"Ke London?"

"Ya, kau bekerja di sana, kan?"

"Hahaha, tidak, aku tidak akan membawa Bulan ke sana, lebih tepatnya kami tidak akan tinggal di sana."

"Kenapa? Bukankah tinggal di London itu enak?"

"Alasan pertama adalah karena Bulan tidak tahan dingin, tidak mungkin kan kami hanya akan berada di London selama musim panas? Bagaimana dengan pekerjaanku? Jika aku tetap tinggal di sana sendiri sementara Bulan hanya datang di musim panas, itu akan sama saja seperti saat aku masih lajang."

"Kau masih lajang? Maksudku, kau bukan duda?"

"Hmm, alasan kedua adalah, karena aku akan pensiun." Eugene mengubah topik pembicaraan, yang seharusnya membahas tentang dirinya, menjadi kembali ke topik awal.

"Pensiun?!" Nuansa memastikan, gadis itu lupa dengan pertanyaannya yang sebelumnya.

"Ya, setelah menikah, aku akan pensiun dan akan menjalankan bisnis bersama Bulan."

"Bisnis? Oh, Andromeda Coffee?"

"Ya, aku akan membantu Bulan untuk memperluas perusahaannya dengan membuka 100 cabang lagi."

"Dan itu menggunakan uangmu?"

"Tentu saja."

"Bagaimana jadinya? Maksudku, pendapatan dari Andromeda Coffee apakah akan menjadi milikmu juga? Dan apakah perusahaan itu kau yang akan memegangnya? Eh, maaf jika pertanyaanku terlalu dalam, hehehe."

"Tidak apa, aku tidak keberatan untuk menjawabmu."

"Tidak usah, tidak usah, aku jadi merasa tidak enak."

"Hahaha, baiklah."

"Jadi ... Itu artinya kau akan tinggal di Indonesia saja bersama bibi Bulan, ya?"

"Tepat sekali."

"Di mana?"

"Bulan memintaku agar kami tinggal di sini saja setelah menikah, dan aku tidak menolak, jadi kami akan tinggal di sini setelah menikah."

"Oooh, begitu."

"Ya, dia mengatakan kalau mungkin dengan cara itu Neptunus bisa menerimaku."

"Kalian jadi memiliki waktu bersama yang lebih banyak dan menjadi dekat, ya?"

"Benar sekali, itu yang diinginkan Bulan, aku menurut saja."

"Itu cara yang bagus, sangat patut untuk dicoba."

"Aku sependapat denganmu."

"Ehehehe. Ngomong-ngomong, setelah menikah, kalian akan bepergian keliling Indonesia atau keliling dunia? Kau tahulah maksudku."

"Ah, kalau soal itu kami belum memikirkannya, karena Bulan sangat ingin keliling Eropa, tapi sepertinya kami akan menikah saat musim dingin, jadi sudah pasti tidak bisa, karena balik lagi, Bulan orangnya tidak tahan dengan dingin. Untuk keliling Indonesia kami masih mempertimbangkannya karena Bulan masih sangat ingin untuk berkeliling Eropa. Jadi begitulah, kami belum mendapatkan keputusan yang pasti."

"Hmmm, begitu ya."

"Ya, ini sebenarnya kami akan pergi ke Korea, tapi tidak tahu bisa atau tidak karena di Korea sedang musim gugur, jadi udara di sana juga lumayan dingin, walaupun hanya belasan derajat celcius, tapi itu tetap dingin, kan? Apa lagi bagi yang belum terbiasa dan hanya terbiasa dengan udara negara tropis."

"Kalian ke Korea dalam rangka apa?" tanya Nuansa yang kepo.

"Oh, Bulan mendapat undangan dari teman lamanya. Anak temannya itu menikah, mereka mengadakan pesta di Indonesia juga sebenarnya, tapi Bulan memilih datang ke Korea saja dan dia mengajakku."

"Oooh, begitu rupanya, kapan kalian akan berangkat? Jadi rupanya ini alasanmu pulang ya, paman."

"Hahaha, tidak juga, hanya kebetulan saja. Kami akan berangkat besok."

"Besok?"

"Ya."

"Tapi kau baru sampai di Indonesia."

"Tidak apalah jika untuk menyenangkan Bulan."

"Uuuuh." Nuansa menjadi malu-malu sendiri, entah apa yang membuatnya menjadi malu-malu tidak jelas seperti itu, mungkin karena ia adalah seorang perempuan, ia jadi merasa baper sendiri dengan apa yang dikatakan oleh Eugene barusan. Eugene hanya bisa terkekeh melihat tingkah Nuansa.

"Yasudahlah, aku ingin menghampiri Neptunus dulu, sepertinya dia sudah tenang sekarang, aku akan mengajaknya berbicara," ucap Nuansa.

"Oh, baiklah, kupikir ini juga waktunya bagiku untuk berbicara dengan Bulan dan menenangkannya," ujar Eugene.

"Wow, kita akan melakukan hal yang sama beratnya."

"Kuharap kau melakukannya dengan baik, karena aku tahu kau bisa membuat Neptunus merasa lebih baik dan menjadi lebih tenang."

"Tidak ada yang bisa membuatnya menjadi tenang kecuali film-film pendeknya itu," gumam Nuansa.

"Huh?"

"Eh, tidak, tidak. Engh, kira-kira Neptunus sedang berada di mana sekarang, ya?" tanya Nuansa yang berpura-pura bodoh agar Eugene tidak berusaha mencari tahu apa yang digumamkannya.

"Kalau dilihat dari keadaannya, sepertinya dia sedang berada di studio musiknya," jawab Eugene.

"Hahaha, aku suka dengan gaya bercandamu, Paman."

"Aku serius, dia kan musisi, masa kau tidak tahu."

"Eh?"