Chapter 40 - Kami Akan Menikah

Name:Nuansa Author:Sihansiregar
Masih di ruang makan, usai makan malamnya selesai, Eugene, Nuansa, Neptunus, Bulan dan Vega masih berada di ruangan tersebut dan membicarakan banyak hal.

"Sangat senang mengetahui kalau Neptunus memiliki pacar sepertimu, kudengar dari Bulan kalau mantan-mantannya Neptunus sangat bukan tipenya," ucap Eugene pada Nuansa.

"Permisi, tapi yang pernah berpasangan dengan mantan-mantanku adalah aku, mereka tipeku, dan yang dibutuhkan adalah seleraku, bukan selera ibuku," sindir Neptunus.

"Ups, sepertinya aku salah bicara."

"Setidaknya sekarang dengan ini kau tahu bahwa dari semua gadis yang kau pacari, aku hanya menyukai Nuansa," ujar Bulan pada Neptunus.

"Tapi tidak kuduga ibu akan menceritakan hal-hal seperti itu padanya," kata Neptunus.

"Tidak masalah, kan?"

"Ya, tidak."

'Aku paham kalau dia hanya ingin bibi Bulan tidak menyamakan Tiana dengan Stephanie atau pun Zhenya. Aku jadi penasaran pada Tiana, dia itu orangnya seperti apa sih sebenarnya? Kenapa Neptunus sampai sebegitunya?' batin Nuansa.

"Tapi syukurlah kau tidak berpacaran dengan Emma, Neptunus," ucap Bulan.

"Ehm, apa kita tadi sedang membicarakan tentang kehidupanku?" Neptunus merasa keberatan.

"Oh, astaga, hehehe, kita tadi sedang fokus membahas tentang pekerjaan paman Eugene, ya," ujar Nuansa.

"Lanjutkan pertanyaan-pertanyaanmu, tipe ibuku," kata Neptunus.

"Oh, aku suka panggilan baruku itu. Tetap panggil aku seperti itu, ya?" Nuansa mengganggu Neptunus yang dari tadi tidak lepas dari perasaan kesalnya.

"Jadi, sudah berapa lama kau bekerja sebagai seorang Detektif, Paman?" tanya Nuansa pada Eugene.

"Sepertinya sudah cukup lama, kurasa sudah 18 tahun," jawab Eugene.

"Lebih lama dari usia Vega, ya. Menjadi Detektif itu cita-citamu?"

"Ya, itu cita-citaku sejak kecil."

"Woah, keren, aku bahkan tidak bisa menggapai cita-citaku sepertimu, hahaha."

"Tidak masalah, aku bisa mengajarimu, sama seperti Vega, lagi pula kau belum telat untuk memulainya."

"Benarkah?!"

"Kalau kau suka, kenapa tidak?"

"Woah! Aku akan sangat tertarik untuk hal ini!"

"Baguslah, karena memang sepertinya kedepannya aku hanya akan menjadi guru bagimu, karena Vega akan sibuk, dia akan berkuliah, kan?"

"Apa maksudmu?" tanya Nuansa dan Vega secara bersamaan, keduanya merasa bingung dengan ucapan Eugene barusan. Eugene dan Bulan lantas saling menatap sembari tersenyum. Kebetulan mereka berdua duduk bersebelahan, jadi mereka juga saling berpegangan tangan.

"Kami akan menikah," jawab Eugene dan Bulan secara bersamaan.

"APA?!" seru Neptunus. Nuansa dan Vega seketika mengalihkan perhatian mereka, dari yang awalnya ke Eugene dan Bulan, kini ke Neptunus yang mengejutkan mereka semua dengan suaranya barusan.

"Jadi kau tertarik?" tanya Bulan yang tampak senang.

"Jauh dari itu!" ucap Neptunus. "Sejak kapan aku memberi restu kepada kalian untuk menikah?! Aku tetap tidak akan pernah mengizinkan ibuku untuk menikah lagi! Itu namanya pengkhianatan, ibu!" lanjut Neptunus.

"Kupikir inilah saatnya bagi keputusanmu untuk tidak diperhitungkan."

"Apa?! Ibu, ada apa ini?!"

"Sudah hampir 15 tahun kami menunggu, Neptunus, dan sekarang aku akan mengakhiri semua itu, aku memutuskan untuk maju tanpa restu darimu, kau menghalangi segalanya."

"Tapi, ibu, kenapa ibu menjadi seperti ini? Kenapa ibu, aku ... Aku tidak habis pikir, kenapa ibu bisa mengambil jalan pintas seperti itu?"

"Mau sampai kapan, Neptunus? Mau sampai kapan kau membuat kami menunggu jawaban darimu? Kami sudah menunggu selama lebih dari satu dekade, jika menunggu hingga genap dua dekade, aku tidak bisa membayangkan sudah setua apa kami."

"Baiklah, aku berikan jawabanku sekarang. Aku mengatakan tidak untuk hubungan kalian, dan aku tidak akan memberi restu apapun atas hubungan kalian, jadi kalian bisa mengakhiri hubungan kalian sekarang."

"Itu sangat konyol sebenarnya, kau sudah membuat mereka menunggu selama hampir 15 taun dan baru memberikan jawaban sekarang, mana jawabannya seperti itu pula," ujar Nuansa.

"Diam kau!" bentak Neptunus, Nuansa tersentak, lalu ia hanya diam.

"Jawaban dan restumu sudah tidak berlaku lagi, jadi, ya, kami tidak peduli denganmu, masa bodoh kalau kau tidak akan pernah menerima Eugene sebagai ayah sambungmu," kata Bulan.

Baru saja Neptunus akan membalas lagi, namun Vega menyelanya. "Sudahlah, kak, ibu pantas mengambil keputusan seperti ini."

"Pantas dari mana?! Pantas apanya?!" tanya Neptunus.

"Ini juga keinginan ayah."

"Ayah tidak meminta Eugene untuk menikahi ibu, Vega!"

"Menikah dengan paman Eugene bisa menjadi kebahagiaan untuk ibu, dan itulah yang ayah mau, ayah ingin ibu bahagia dan dilindungi sekaligus, walaupun ibu harus menikah lagi. Kau sudah dewasa, seharusnya kau mengerti dan menerima itu. Ya, memang ini berat, karena dulu keluarga kita yang utuh adalah keluarga yang sangat bahagia, aku tahu, walaupun kau hanya merasakan itu selama 9 tahun, tapi kau masih sangat mengingatnya dengan jelas sampai sekarang, begitu juga denganku, tapi kau seharusnya mengerti, kejadian itu meninggalkan luka yang dalam untuk ibu, dia butuh seorang pria yang bisa menggantikan ayah sebagai pelindungnya, yaitu paman Eugene."

"Jika ibu merasa sangat terluka akan kejadian itu, seharusnya ibu tidak memilih untuk menikah lagi dengan pria manapun, itulah bentuk 'sangat terluka' yang sesungguhnya. Kalau begini jadinya, itu artinya ibu sama sekali tidak merasa kehilangan atas kematian ayah."

"Neptunus, hentikan," kata Bulan dengan nada yang sangat pelan, ia melepaskan tangan Eugene, lalu perlahan mulai berdiri. "Kau tidak akan pernah bisa membayangkan betapa cinta dan sayangnya aku pada ayahmu," sambung Bulan.

"Dan Eugene akan seperti: apa aku hanya sebuah lelucon untukmu?"

"Nak, ibu kecewa padamu, ternyata usiamu saja yang bertambah, tapi pemikiranmu masih tetap di umur 9 tahun, ternyata selama ini kau benar-benar tidak mengerti apapun, termasuk diriku."

"Akulah yang kecewa pada ibu, aku mencoba untuk membuat ibu menjadikan ayah sebagai cinta mati ibu, tapi ternyata ibu tidak pernah mengerti diriku. Kasihan sekali ayah."

"Neptunus, kau ..." Bulan terlihat tidak menyangka dengan apa yang dikatakan oleh putranya barusan, itu sangat menyakitkan baginya, apa lagi yang mengatakan itu adalah Neptunus, anaknya yang ia lahirkan dengan taruhan nyawa.

"Permisi," ucap Bulan dengan air mata yang bercucuran, ibu 2 anak itu lantas pergi ke kamarnya dengan perasaan sangat sedih dan sakit di hatinya. Neptunus menghinanya, ini sangat diluar dugaannya.

"Apa yang kau lakukan?! Kau durhaka! Kau menghina ibumu sendiri! Kenapa kau tidak mengerti posisinya?! Tentang traumanya?! Kenapa?! Kau ternyata adalah hanya anak kecil yang terjebak di tubuh orang dewasa." Vega memarahi Neptunus, ia lalu pergi mengejar ibunya.

Nuansa lantas merasa jadi serba salah, gadis itu tidak tahu harus berbuat apa agar semuanya kembali membaik, namun sepertinya tidak akan semudah yang dipikirkannya, jadi ia mencoba langkah kecil dulu untuk menenangkan Neptunus.

"Neptunus ..." kata Nuansa.

"Diam kau! Dari tadi aku menyuruhmu untuk diam!" bentak Neptunus, Nuansa kembali tersentak dengan bentakan yang Neptunus berikan padanya. Neptunus kemudian ikut-ikutan pergi dari ruang makan, tapi entah ke mana dia pergi.

Tersisalah Nuansa dan Eugene di ruang makan itu, keduanya larut dalam keheningan, Nuansa tidak mencoba untuk memulai pembicaraan karena dirinya masih syok sebab dibentak Neptunus hingga 2 kali dalam waktu yang sangat berdekatan.