Chapter 36 - Bertanya

Name:Nuansa Author:Sihansiregar
"Aku hanya seorang pedagang keripik singkong."

"Pengusaha keripik singkong maksudmu?"

"Engh ..." Nuansa bingung harus menjawab apa lagi, lalu dari kejauhan dilihatnya Neptunus berjalan mendekatinya dan Finn.

"Ada apa?" tanya Finn yang merasa heran karena Nuansa terdiam dengan pandangan yang fokus pada satu titik.

"Engh, tidak, itu ... Itu Emma, kan?" ucap Nuansa seraya menunjuk Emma, padahal ia tidak melihat Emma tadi.

"Ya."

"Aku menghampirinya dulu, ya."

"Untuk apa?"

"Kau lihat saja." Nuansa lalu pergi menghampiri Emma yang berada berada di arah jam 1 dari Neptunus, membuat Neptunus mengira kalau gadis itu akan menghampirinya, namun ternyata tidak.

'Kalau tiba-tiba aku mengatakan 'Ah, itu Neptunus.' padanya tadi, dia akan mengira aku menyembunyikan sesuatu karena berusaha mengalihkan pembicaraan, tapi untunglah aku tiba-tiba melihat Emma, jadi aku bisa berdalih walaupun sebenarnya aku belum siap untuk berbicara dengannya,' batin Nuansa.

"Mau ke mana dia?" gumam Neptunus yang tidak melepaskan pandangannya dari Nuansa yang sama sekali tidak mempedulikannya.

"Emma!" panggil Nuansa. Emma yang sedang berjalan sendiri pun lantas menoleh ke Nuansa.

"Aku Nuansa, yang semalam merusak pestamu," ujar Nuansa saat Emma menoleh kearahnya. Sesaat setelah Nuansa mengatakan itu, Emma langsung pergi meninggalkan gadis tersebut, melanjutkan langkahnya.

"Setidaknya aku sudah berniat baik," gumam Nuansa. Ia lalu berbalik badan, namun ketika dirinya berbalik badan, Neptunus tiba-tiba sudah berada di belakangnya, dan tentu saja Nuansa menabraknya.

Nuansa hampir terjatuh setelah menabrak Neptunus, tapi untungnya Neptunus menangkap dan menopang tubuhnya. Keduanya pun sontak menjadi pusat perhatian satu kampus termasuk Emma karena momen romantis mereka.

Melihat hal itu, Emma tentu saja langsung terbakar, ia lantas memilih pergi dari sekitar situ.

Neptunus dan Nuansa kemudian terjebak dalam aksi saling tatap, namun kali ini Nuansa tidak membiarkan hal tersebut menjadi hal yang romantis, ia justru mencubit tangan Neptunus, dan tentu saja Neptunus kesakitan, Nuansa membuat dirinya sendiri terjatuh dan menjadi bahan tertawaan orang-orang.

Bukannya merasa kesal pada Neptunus atau merasa malu, Nuansa justru ikutan ketawa geli.

"Apa yang kau lakukan?" bisik Neptunus.

"Kau tidak menunjukkan sisi kepura-puraanmu jika kita seperti itu tadi," kata Nuansa.

"Justru dengan begitu aku terlihat begitu cool, kau merusak segalanya."

"Tapi, lihat, mereka semua tertawa."

"Itu karena kau terjatuh, bodoh!"

"Ya, itu lucu, kan? Hahaha."

"Kau sedang bercanda atau bagaimana? Kenapa kau malah ikut tertawa? Kau sedang jadi bahan tertawaan, Nuansa."

"Aku tahu, tapi yang tadi itu benar-benar lucu. Aku tahu disaat apa aku harus ikut tertawa, Neptunus."

Neptunus lantas tertawa.

'Syukurlah dia memiliki pola pikir seperti itu. Dia tidak memasukkan segala bentuk ejekan ke dalam hatinya, aku salut pada gadis ini,' batin Neptunus.

***

Nuansa dan Neptunus lantas kembali ke area parkir.

"Di mana Wisnu?" tanya Neptunus pada Finn.

"Sudah pulang," jawab Finn.

"Nuansa, apa yang kau lakukan pada Emma tadi?" tanya Finn pada Nuansa.

"Aku ingin meminta maaf padanya dan mengakhiri semua keributan. Memangnya kenapa?"

"Apa? Kau serius?"

"Apa aku terlihat sedang bercanda?"

"Tapi, bagaimana kau bisa berpikiran seperti itu?"

"Ya memang harus seperti itu, kan?"

"Entahlah."

"Kau akan langsung pulang?" tanya Neptunus pada Finn.

"Ya. Di mana kalian bertemu pertama kali? Dan sudah berapa lama kalian saling kenal?"

"Kenapa?"

"Kenapa aku tidak pernah mengetahui tentang Nuansa?"

"Apa semua orang yang kukenal harus kuberitahu dan kulaporkan padamu?"

"Ya ... Tidak sih, bukan begitu maksudnya, tapi tumben sekali kau tidak memperkenalkan seorang gadis yang kau taksir pada temanmu. Sejak kau SD kau sudah gembar-gembor padaku kalau kau akan mendapatkan hati si A, si B dan si C, tapi kenapa sekarang tidak?"

"Karena itu bukan tradisi, jadi aku boleh berhenti dan tidak melanjutkannya, aku tidak punya kewajiban juga untuk memberitahumu, kan?"

Finn lantas mendengus. "Yasudahlah, aku pulang dulu, aku akan manggung di sebuah kafe hari ini."

"Semoga lancar."

"Terima kasih."

"Manggung di kafe?" tanya Nuansa.

"Ya," jawab Finn.

"Istilah untuk apa itu?"

"Itu bukan sebuah istilah."

"Hahaha, baiklah, baiklah, aku suka gaya bercandamu."

"Ah, terserah kau saja lah." Finn kemudian menaiki mogenya dan pulang.

"Usahamu untuk merangkul Emma sia-sia, kan?" ucap Neptunus pada Nuansa usai Finn pergi.

"Setidaknya aku sudah berusaha," ujar Nuansa.

***

Dalam perjalanan pulang ke rumah Neptunus, Nuansa bertanya sesuatu pada pria tersebut.

"Neptunus," panggil Nuansa.

"Hng?" sahut Neptunus dengan nada tidak ikhlas.

"Ish, serius!"

"Iyaaaaaa, aku serius."

"Tidak jadi kalau begitu."

"Kau ini kenapa?!"

"Aku ingin bertanya sesuatu padamu, tapi kaunya begitu, ya tidak jadi."

"Kau merusak khayalanku, jadinya aku sedikit kesal."

"Mengkhayal apa kau?"

"Perempuan dilarang kepo."

"Sudah kuduga, hal-hal seperti itu lagi."

"Yasudah, apa yang ingin kau tanyakan?"

"Sebelum aku bertanya, kau harus berjanji akan menjawabnya."

"Kenapa?"

"Sudahlah, berjanji saja."

"Tidak mau."

"Iiih!"

"Iya, iya, untuk Nuansa yang cantik apa yang tidak."

"Hehehe, terima kasih. Aku ingin bertanya, ini tentang Tiana."

Neptunus lalu terdiam ketika Nuansa menyebut nama Tiana.

"Tiana?" Neptunus memastikan.

"Ya."

"Ada apa rupanya?"

"Kau merindukannya?"

"Kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti itu? Dan tentang Tiana pula."

"Gladys menceritakan tentang Tiana padaku, aku turut berduka cita ya atas kematiannya."

"Pantas saja, kerjaan Gladys ternyata."

"Jangan marah padanya, tidak masalah kalau aku tahu, kan?"

"Tidak masalah, tapi aku tidak ingin membahas tentang Tiana lagi."

"Oh, baiklah, aku mengerti."

"Baguslah, tapi aku tetap akan menjawabmu. Ya, aku sangat merindukannya. Jika Gladys yang menceritakannya padamu, kau pasti mengerti bagaimana perasaanku padanya, kan?"

"Ya, kuharap dia tenang di surga."

"Amin."

"Jadi ... Aku sudah membuatkan paspor untukmu," sambung Neptunus.

"Paspor?" Nuansa tampak bingung.

"Ya, pacarku harus punya paspor."

"Tapi kan aku hanya pacar sewaanmu."

"Dari Stephanie hingga Tiana, aku pernah jalan-jalan ke luar negeri bersama mereka di dua minggu pertama kami berpacaran, jadi dalam satu bulan ini kita harus pergi ke luar negeri sebelum membuat drama putus, agar kita terlihat seperti sedang berpacaran sungguhan."

"Hmm, tapi, bagaimana kau bisa membuatkanku sebuah paspor?"

"Semalam ketika aku mengantarmu pulang, aku meminta data dirimu, kan?"

"Ya."

"Tapi kau sama sekali tidak bertanya untuk apa, jadi ya aku diam saja."

"Kupikir hanya untuk dokumen pribadimu, ternyata untuk paspor. Kapan jadinya?"

"Kurasa besok sudah jadi."

"Cepat sekali."

"Aku kenal dengan orang dalam, anaknya adalah teman kuliahku juga, jadi urusannya sangat gampang."

"Oooh begitu. Tapi, kalau kau mengajakku jalan-jalan ke luar negeri untuk membuat orang-orang percaya bahwa kita berpacaran, aku ingin ke Paris, kota romantis idamanku."

"Enak saja kau, sudah gratis, mau request pula."

"Hehehe, siapa tahu kita satu tujuan."

"Tidak, tidak, aku sudah pernah ke Paris, jadi aku tidak tertarik untuk pergi ke sana bersamamu."

"Jadi kau ingin kita ke mana?"

"Hmmm, ke mana, ya? Aku belum memikirkannya."

Nuansa tiba-tiba berdoa. "Ya Tuhan, ke Paris, amin."

Neptunus pun hanya bisa geleng-geleng kepala melihat pacar sewaannya tersebut.