Chapter 35 - Aku Bukan Siapa-Siapa

Name:Nuansa Author:Sihansiregar
"Neptunus sudah bertunangan sebelumnya?" Nuansa memastikan lagi.

"Ya, dia dan Tiana benar-benar saling mencintai. Kalau sudah bercerita tentang Tiana padaku, Neptunus seperti merasa hanya ada dua manusia di dunia ini, Tiana dan dia, karena yang hanya diceritakan betul-betul hanya Tiana, dari awal pembicaraan sampai pembicaraannya berakhir. Jadi kau bisa membayangkan bagaimana hancurnya Neptunus ketika Tiana meninggal," ucap Gladys.

"Apa yang menyebabkan Tiana meninggal?"

"Dia diserang geng motor tanpa alasan yang jelas."

"Geng motor?" lirih Nuansa.

"Ya."

"Itu artinya Tiana meninggal dengan cara yang sama dengan paman Jupiter."

"Tepat sekali. Jadi, ya, Neptunus sangat hancur ketika Tiana meninggal. Aku datang ke pemakaman Tiana, dan ketika semua orang meninggalkan aku dan Neptunus berdua di makam Tiana, di hadapanku Neptunus bersumpah bahwa Tiana adalah cinta sejati sehidup sematinya, dia bersumpah tidak akan mencintai wanita manapun lagi, kecuali mungkin adik dan ibunya. Makanya aku sempat heran ketika kau mengatakan kalau kau adalah pacarnya. Bukankah sumpah tidak boleh dilanggar? Itu akan berakibat fatal, kan?"

Nuansa lantas terdiam sambil menunduk. Gadis itu kemudian menarik napas panjang. "Sebenarnya aku bukan pacar Neptunus, jadi dia tidak melanggar sumpahnya," ujar Nuansa. Pernyataannya ini tentu saja membuat Gladys terkejut.

"Kau serius?" tanya Gladys dengan kening yang mengerut.

"Ya, aku hanya pacar sewaannya. Aku tahu kalau seharusnya aku tidak mengatakan ini padamu, karena ini melanggar perjanjian antara aku dan Neptunus, tapi, aku tidak ingin kau berpikir buruk tentangnya."

Gladys terdiam sesaat. "Kenapa Neptunus menyewa seorang pacar?"

"Entahlah, apa hanya kau yang tahu tentang sumpahnya?"

"Ya."

"Dia mengatakan padaku kalau keluarga dan teman-temannya terus menanyakan pasangan barunya. Neptunus terkenal playboy, kan? Jadi kurasa untuk orang-orang yang tidak tahu tentang sumpahnya, mereka akan terus menanyakan hal itu karena Neptunus itu playboy."

"Dan dia menyewamu untuk membungkam mereka?"

"Ya. Dan sekarang kurasa akan marah jika dia tahu aku menceritakan semuanya padamu."

"Tidak apa, aku tidak akan mengatakan hal ini pada siapapun, termasuk pada Neptunus, yang ingin kupastikan hanya dia memang sangat mencintai Tiana, itu saja."

"Ya, tampaknya memang dia sangat mencintai Tiana, dia tidak melanggar sumpahnya. Sebelum kenal dengan Neptunus, aku hanya penjual keripik singkong biasa, aku hanya orang miskin, tidak ada hal yang bisa membuatku mengenal Neptunus, kami hanya diperkenalkan melalui hubungan kerja, kami ... ya, kami menipu semua orang."

"Tapi itu membuat Neptunus masih pada sumpahnya, aku kagum padanya."

Nuansa tersenyum. "Janji untuk tidak menceritakan ini pada siapapun, ya? Aku menceritakan ini padamu karena aku percaya padamu, aku tahu kau orang baik yang tidak memiliki niat buruk apapun pada Neptunus."

"Ya, aku berjanji. Namamu Nuansa, kan? Mulai sekarang kita adalah sahabat," ucap Gladys.

"Salam kenal," ujar Nuansa, keduanya lantas bersalaman. Nuansa pun kemudian menghabiskan Takoyakinya.

***

Setelah cukup lama berada di restoran Asia Timur tersebut dan mencoba beberapa makanan Asia Timur, Nuansa pun kembali ke kampus Neptunus. Ia tidak mendapati Neptunus di mobilnya, dan sepertinya jam kuliah beberapa kelas baru selesai sekarang.

"Dia belum selesai?" gumam Nuansa.

"Hmm, kupikir aku sudah kelamaan berada di restoran itu. Eh, restoran itu apa namanya, ya?" lanjutnya.

'Sambil menunggu Neptunus yang sepertinya akan lama, lebih baik aku mengingat-ingat nama restoran itu, walaupun sepertinya ini akan sulit,' batin Nuansa. Baru 2 detik ia mulai berusaha mengingat nama restoran itu, namun tiba-tiba seorang mahasiswa datang menghampirinya.

"Halo," sapa pria itu.

Ternyata pria itu adalah pria yang memanggilkan Neptunus tadi dan menolong Nuansa yang terjebak di dalam mobil.

"Eh?" kata Nuansa.

"Kau yang tadi, kan?" sambung gadis tersebut.

"Iya, namaku Finn."

"Finn? Finn Harold?"

"Loh, kau tahu nama lengkapku dari mana?"

"Gladys, tunanganmu."

"Oh, iya, hahaha, kau habis dari sana, ya?"

"Iya, Neptunus menyuruhku tadi. Ternyata kau yang bernama, Finn, ya? Kau tidak kalah baiknya dengan Gladys."

"Aku bukan orang baik, aku tidak menolongmu di pesta Emma semalam."

"Kau ada di sana semalam, ya?"

"Ya, aku dalam keadaan mabuk, maaf karena aku tidak menolongmu dan malah hanya menonton saja."

"Tidak apa, kurasa aku memang pantas diperlakukan seperti itu oleh Emma."

"Kenapa?"

"Dia benar, aku merusak pestanya."

"Tapi perlakuannya padamu itu diluar batas, kalau saja dia hanya memarahimu kurasa tidak masalah."

"Hahaha, sudahlah, tidak usah dibahas lagi, itu sudah berlalu, dan Neptunus sudah menyelamatkanku."

"Caranya sedikit ekstrem, ya? Seperti di dunia ini tidak ada yang namanya tisu atau kain lap."

"Hahaha, itulah Neptunus."

"Jadi, kau adalah pacar barunya, ya?"

"Ya, namaku Nuansa."

"Nuansa? Cukup aneh dan tidak cocok untuk dijadikan sebuah nama, ya?"

"Kupikir juga begitu, aku bahkan sempat ribut dengan orangtuaku hanya karena nama itu, aku marah pada mereka saat usiaku 12 tahun, aku protes pada mereka dengan mengatakan kalau namaku tidak ada artinya. Nama lengkapku sebenarnya Nuansa Indahsari, ada artinya jika lengkap, tapi aku sempat marah pada orangtuaku, aku mengatakan "Kenapa nama panggilanku bukan Indah atau Sari, saja? Itu lebih umum dan cocok untuk jadi nama panggilan, kan? Lagi pula itu punya arti. 'Nuansa' itu tidak punya arti untuk dijadikan nama jika tidak ada sambungannya, makanya tidak cocok untuk dijadikan nama panggilan.' dan tebak, apa jawaban mereka? Mereka mengatakan kalau 'Nuansa' sangat jarang dipakai untuk sebuah nama panggilan, atau mungkin tidak ada selain aku, makanya mereka memanggilku dengan nama itu agar aku hanya menjadi satu-satunya yang punya nama itu. Mereka tidak peduli jika 'Nuansa' tidak seharusnya menjadi nama panggilan, karena ada orang diluar sana yang bisa memiliki nama panggilan yang tidak ada di nama lengkapnya, jadi bagi orangtuaku, itu tidak masalah. Awalnya aku masih keberatan dengan alasan mereka, tapi lama kelamaan, kurasa mereka ada benarnya. Nama adalah doa, kan? Nama lengkapku memiliki arti yang bagus, tapi untuk panggilan, itu tidak dihitung selama artinya tidak buruk, jadi, ya, lama kelamaan aku mulai bisa menerimanya," jelas Nuansa dengan 2 kali panjang lebar. Sudah seperti rumus Matematika.

"Hmm." Finn mencoba memahami penjelasan Nuansa yang panjang barusan. "Begitu, ya," lanjutnya.

"Engh, kalian kenal di mana? Dan di mana pertama kali kalian bertemu?" tanya Finn.

"Kenapa kau ingin tahu soal itu?" Nuansa bertanya balik, karena selain dirinya tidak tahu harus menjawab apa, itu juga seharusnya bukan urusan Finn, kan?.

"Aku sahabat dekat Neptunus sejak kami masih SD, dia adalah kakak kelasku dulu, tapi sekarang kami satu kelas."

"Karena dia telat masuk kuliah, ya?"

"Ya, dia sempat tidak ingin berkuliah, tapi entah kenapa dia akhirnya mau berkuliah. Kami mengambil satu jurusan yang sama di kampus yang sama, dan satu kelas pula, jadi, yasudah, kami semakin bersahabat dekat. Sejak SD walaupun kami tidak sekelas, aku dan Neptunus bersahabat dekat, jadi aku mengenal hampir semua orang yang dikenalnya. Cukup mengejutkan aku tidak mengenalmu sebelumnya, makanya aku bertanya seperti itu padamu."

"Aku ... Aku sebenarnya bukan siapa-siapa."

"Huh?"