Chapter 18 - Mengeringkan Rambut

Name:Nuansa Author:Sihansiregar
Nuansa berlari ketika keluar dari kamar Vega, ia bahkan menabrak Hehe saat keluar dan membuat keduanya jatuh bersama keranjang pakaian kotor yang sedang dibawa oleh Hehe.

"Aduh!" Hehe yang sudah cukup berumur pun mengaduh kesakitan.

"Aaa!" Sementara Nuansa berteriak karena handuknya terbuka sedikit. "Maaf, bibi Hehe, aku tidak melihatmu tadi," sambung Nuansa.

"Ya ampun, nak, penglihatanmu masih sangat jelas, tapi kenapa kau tidak melihat wanita besar ini?" ucap Hehe.

"Aku ... Aku terburu-buru tadi."

"Kau? Memangnya kau sedang apa?"

"Aku sedang mandi di kamar Vega."

"Lalu kenapa kau keluar di saat belum selesai?"

"Aku ... Bibi apa di sini tidak ada kamar mandi yang ada gayungnya?" Nuansa mengalihkan pembicaraan.

"Gayung?"

"Iya, gayung."

"Kami tidak memakai gayung di rumah ini."

"Lalu bagaimana Bibi mandi? Aku tidak yakin Bibi mandi dengan back up juga."

"Back up?"

"Engh, bathtub."

"Kami para pembantu mandi dengan shower."

"Shower?"

"Iya, air pancuran itu."

"Oooh, air mancur?"

"Bukan."

"Lalu?"

"Aduh, bagaimana ya. Eh, kenapa kau mandi di sini?"

"Aku ... Aku di suruh oleh bibi Bulan."

"Nyonya Bulan menyuruhmu untuk mandi?"

"Ya."

"Untuk apa? Kau pasti sudah mandi ketika datang ke sini, kan?"

"Be-belum."

"Yasudah, sekarang kenapa kau keluar dari kamar nona Vega?"

"Apa ada shower di kamar mandi Vega?"

"Kenapa? Kau kan bisa mandi di bathtub."

"Aku tidak suka berendam."

"Seharusnya shower berada di dekat bathtub, kau tidak melihatnya?"

"Ti-tidak."

"Ayo ikut aku." Hehe lantas merapikan pakaian kotor yang berserakan dengan bantuan Nuansa. Setelah itu, mereka masuk ke dalam kamar Vega dan ke kamar mandinya.

"Ini kan shower," ujar Hehe.

"Oh, iya, hehehe, aku tidak melihatnya tadi."

Hehe lalu menyalakan shower tersebut. "Ini masih sangat berfungsi, kau ingin mandi dengan shower?"

"Ya."

"Tapi kenapa bathtubnya sudah terisi?"

"Terlanjur di isi, Bibi. Aku tiba-tiba berubah pikiran untuk mandi menggunakan shower saja."

Hehe kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya sembari membuang napas panjangnya. "Jangan lupa kuras airnya nanti."

"Baik, terima kasih, Bibi," ucap Nuansa.

"Sama-sama. Aku keluar dulu."

"Ok."

Hehe lantas berjalan keluar, Nuansa pun menutup pintu kamar Vega usai Hehe keluar.

"Aneh-aneh saja cara mandi mereka," gumam gadis itu setelah Hehe pergi.

"Tadi bagaimana bibi Hehe membuat benda ini berfungsi dan mengeluarkan air?"

"Begini?" Nuansa langsung berhasil menggunakan shower pada percobaan pertamanya, dan ketika ia mencoba mandi menggunakan shower, gadis tersebut langsung kegirangan.

Ia bertingkah layaknya anak kecil, melompat-lompat tidak jelas karena sangat menikmati setiap pancuran air yang keluar.

"Woohoo! Ini sangat menyenangkan!" seru Nuansa.

***

Seusai mandi, Nuansa langsung berpakaian. Ia berniat untuk mengeringkan rambutnya menggunakan kipas angin, namun dirinya tidak menemukan kipas angin di kamar Vega.

"Bagaimana ini? Rambutku akan terus basah sampai sore jika aku tidak mengeringkannya dengan kipas angin. Orang kaya memang aneh-aneh, mandi dengan bathup dan shower, kipas angin tidak punya, ada-ada saja," celoteh Nuansa. Secara tidak sengaja, ia menatap ke atas dan melihat AC.

'Aha,' batin Nuansa.

***

"Aku pulang," kata Vega ketika ia baru saja masuk ke dalam rumahnya.

"Vega?" Bulan keluar dari ruang tamu.

"Ibu? Ibu tidak bekerja?" tanya Vega.

"Aku akan masuk sore nanti."

"Kenapa? Dan bagaimana bisa?"

"Nuansa ada di sini, kemarin ibu mengatakan padanya dan Neptunus kalau ibu akan mengosongkan jadwal ibu hari ini dalam beberapa jam untuk berbincang dengan Nuansa dan mengenalnya lebih jauh, tapi ada beberapa kejadian yang membuatnya sekarang berada di kamarmu."

"Kamarku?"

"Ya, periksa saja sendiri."

"Ada apa memangnya?"

"Dia akan menceritakannya padamu."

"Baiklah." Vega pun lantas pergi ke kamarnya, dan di saat ia berjalan di lantai 2, ia melihat Hehe yang sudah selesai mencuci baju, namun Vega tidak peduli akan hal itu. Ia langsung masuk ke kamarnya yang ternyata tidak dikunci.

Vega terkejut saat ia masuk ke dalam kamarnya, karena ia melihat Nuansa yang sedang berdiri persis di bawah AC. Nuansa berdiri di atas kursi rias Vega agar jaraknya dengan AC bisa jadi cukup dekat. Nuansa tampak sedang melakukan sesuatu dengan rambutnya, seolah ia sedang mengeringkan mahkotanya tersebut.

"Kak Nuansa?" panggil Vega.

"Vega? Oh, hei, aku pinjam kamarmu sebentar," ujar Nuansa dengan santainya.

"Kau sedang apa?"

"Kau tidak melihatnya? Aku sedang mengeringkan rambutku."

"Mengeringkan rambut?"

"Ya. Aku tidak menemukan kipas angin di kamarmu, jadi kugunakan AC karena AC memiliki fungsi yang sama dengan kipas angin, kan? Tapi kenapa rambutku tidak kering-kering, ya? Ketika aku memakai kipas angin untuk mengeringkan rambut, rambutku tidak butuh waktu lama untuk kering, tapi ini malah tetap basah dan malah menjadi dingin."

"Astaga, hahahaha." Vega pun langsung tertawa geli mendengar penjelasan Nuansa.

"Kenapa? Kau tidak sedang memanggil bibi Haha, kan?"

"Tidak. Tapi aku menggunakan Hair Dryer untuk mengeringkan rambut, bukan AC."

"Hair Dryer?"

"Ya, alat itu memang berfungsi untuk mengeringkan rambut karena dia mengeluarkan udara panas."

"Tapi, bagaimana dengan AC?"

"Entahlah, aku belum pernah mencobanya, lagi pula AC itu kan mengeluarkan udara dingin yang bisa mencapai suhu dibawah lima derajat, jadi sepertinya AC tidak bisa membuat rambut basah menjadi kering," kata Vega seraya mengeluarkan Hair Dryernya.

"Ya ampun," gumam Nuansa, gadis itu pun kemudian turun dan mengembalikan kursi rias Vega ke tempat semula. Vega lantas mengeringkan rambut Nuansa dengan Hair Dryer.

"Mulai terasa kering, kan?" tanya Vega.

"Ya," jawab Nuansa.

"Apa yang terjadi? Kenapa kau sampai mandi di sini?"

"Aku mengompol di celana, jadi bibi Bulan menyuruhku untuk mandi dan mengganti pakaianku dengan pakaianmu karena aku tidak membawa pakaian apapun."

"Kau mengompol di celana?"

"Engh, ya."

'Kenapa dia seperti tidak malu untuk menceritakannya?' batin Vega.

"Beberapa orang memang sulit menahan kencing, tapi sebaiknya jangan ditahan," ucap Vega.

"Begitu ya."

"Uh-hum."

'Neptunus! Gara-gara kau aku jadi terlihat sangat bodoh di hadapan keluargamu! Awas kau!' batin Nuansa.

"Baiklah, ini sudah cukup kering, sebaiknya jangan benar-benar kering karena rambut akan rusak," kata Vega.

"Ok, terima kasih."

"Sama-sama. Pakaianmu sudah dicuci?"

"Belum."

"Berikan pada bibi Hehe sana, dia sedang mencuci baju, lalu kembalilah ke sini."

"Baiklah." Nuansa lalu mengikuti perkataan Vega, gadis itu langsung tahu di mana ruangan mencuci baju, tapi ia tidak mendapati siapapun di sana karena Hehe sudah selesai mencuci baju.

"Aduh, bagaimana ini? Aku tidak mungkin memanggil bibi Hehe hanya karena aku tidak tahu cara mencuci baju dengan mesin cuci, dia kelihatannya sudah selesai mencuci. Kenapa tidak ada sikat baju saja di sini sehingga aku bisa mencuci bajuku sendiri?" gumam Nuansa.