Chapter 444 - 444. Keadaan mendesak

Pangeran Richard keluar dari kamar yang Ludius tempati, saat ini waktu sudah menunjukkan pukul 08.00 malam waktu setempat. Sudah 12 jam lebih sejak terakhir kali Ludius menelpon Silvia dan belum mendapatkan kesempatan lagi untuk menelpon istrinya.

"Sayang, kamu saat ini pasti sedang marah – marah karena aku belum menelponmu kembali. Maafkan aku Sayang, keadaan di Kerajaan ini tidak stabil dan menyita waktuku untuk menelponmu.." gumam Ludius.

Di dalam kamar hanya ada Ludius seorang diri, semua pelayan yang di persiapkan untuk melayani Ludius sudah keluar. Ludius mengambil ponselnya yang ada di saku dan langsung mencari kontak nomor dari istrinya.

Drrt.. drrt.. drrt..

Lama panggilan Ludius tidak di angkat oleh Silvia membuatnya tersenyum dan geleng – geleng kepala. "Sayang.. Apa sebegitu marahnya kamu pada suamimu ini.. aku kan hanya terlambat menelpon, tapi mengapa kamu tidak mengangkat teleponku?". Ludius terus bergemam tidak jelas. "Seharusnya di China sekarang sudah jam 08.00 pagi, masa iya kamu belum bangunn sih, sayang.."

Ludius mencoba menelpon via video call kembali pada Silvia, takut terjadi sesuatu pada istrinya. Bagaimna pun meninggalkan Silvia tanpa pengawasan langsung darinya itu sangat riskan.

[Hmm.. ada apa kau menelponku, Tuan Lu..] kata Silvia, posisinya saat ini sedang duduk di kamar dengan memakai dress seperti biasa, yang tidak biasa dari Silvia saat ini adalah, dia menunjukkan wajah cemberutnya di depan layar ponselnya.

[Sayang.. mengapa kata – katamu terlihat kasar sekali. Apa kamu tidak merindukan suamimu? Aku sengaja mencuri waktu agar bisa mneghubungimu, loh..] balas Ludius, ia berbicara dengan nada menggoda, bahkan tatapannya di depan layar ponsel terlihat nakal.

[Hmmpt.. pembohong! Apa kau tahu suamiku, aku sudah menunggu telepon darimu sudah berapa jam lamanya?! Bisa – bisanya sekarang kamu menelpon dengan rasa tidak bersalah. Aku mau konpensasi!] Silvia menaikkan nada bicaranya demi menuputi perasaan rindunya yang jelas tergambar di kedua matanya.

Ludius hanya bisa tersenyum simpul melihat tingkah istrinya di layar ponsel. Serindu apapun Ludius, demi mendapatkan kebenaran dari identitas Silvia, dia harus bertahan menahannya. 'Sayang, aku pasti akan menemukan kebenaran atas keluargamu sekaligus menjagamu dari orang – orang yang ingin menyelakaimu.' Batin Ludius.

[Mengapa kamu diam saja suamiku, maafkan kata – kata kasarku tadi, yah.. habisnya kamu gitu sih.. kasih kabar telat. Memang enak apah, bikiin istri khawatir kayak gini, jahat!] Silvia mensunggutkan bibirnya, merajuk dengan tatapan rasa bersalah.

[Maafkan aku Sayang, sudah membuatmu khawatir, aku di sini baik – baik saja. Lain kali aku akan memberi kabar kalau akan telat menelponnya. Bagaimana pagi ini, sudah sarapan?]

[Sudah tadi dengan Ibu, kalau nanti siang niatnya aku mau ajak teman – teman  barbeque an. Bosen di Mansion sendirian, apalagi suami yang nyebelin pergi. Tambah sepi deh..]

[Haolah.. haolah.. aku akan kembali sesegera mungkin. Jaga dirimu baik – baik Sayang. Jangan lupa makan, istirahat yang teratur. Jangan terlalu sering meninggalkan Mansion, karena ada banyak orang yang menginginkanmu. Apa kamu paham istriku yang nakal?]

[Baiklah suamiku yang baik hati dan tidak sombong, aku akan ingat nasehatmu. Ingat.. segeralah kembali, aku akan selalu menunggu. Ohya di sana pasti sudah malam. Lebih baik kamu istirahat, suamiku.. kamu bisa menelponku lain kali..] Silvia mengembangkan senyumnya mengantar Ludius untuk beristirahat. Karena waktu di Hardland saat ini adalah malam hari.

[Terima kasih sayang, kamu mau memahami situasi yang sedang terjadi. Malam nanti aku akan menelponmu kembali dan melihat kalian barbeque an bareng. Love you babe..]

[Love you too husband].  Silvia memanyunkan bibirnya membalas sapaan  terakhir Ludius sebelum menutup panggilan video callnya.

"Dasar istri nakal, di saat seperti ini pun masih bisa memberikan senyum nakal", gumam Ludius seraya senyum seringai.

***

#Mansion Lu

Pagi ini di mansion Lu, Silvia baru saja di hubungi Ludius melalui video call. Ini mungkin hal biasa bagi sebagian orang, tapi bagi Silvia mendapat kabar dari Ludius adalah kebahagiaan yang tiada tara. Baru berpisah satu hari bagai satu abad lamanya. Perasaan rindu itu seakan membuncah  bagai kelopak mawar yang mekar.

Di Shanghai saat ini waktu sudah menunjukkan pukul 09.00 pagi. Setelah mendapat telepon dari Ludius, Silvia keluar dari kamarnya dan menuju dapur untuk mencari Bibi Yun.

"Bibi.. Bibi.." Panggil Silvia pada Bibi Yun seraya melangkah cepat menuju dapur.

"Nyonya.. hati – hati melangkahnya. Ingatlah.. anda sedang mengandung". Sahut Bibi Yun memperingati, ia menghampiri Silvia dan memapahnya.

"Aku baik – baik saja Bi. Oh ya, bagaimana dengan teman – teman? Apakah Bibi sudah menghubungi mereka?". Tanya Silvia dengan senyum merekah, meski itu hanya peralihan rasa rindunya pada Ludius.

"Sudah, sore nanti mereka akan kemari untuk memenuhi undangan Nyonya. Semua sudah saya atur dengan baik, Nyonya tidak perlu khawatir".

"Uhm, terima kasih Bi.."

"Mari Bibi antar kembali ke kamar, wajah Nyonya terlihat pucat. Nyonya harus perbanyak istirahat." Bibi Yun mengantar Silvia keluar dari dapur dan di balas dengan anggukan Silvia.

Saat Silvia di antar Bibi Yun keluar dari dapur, tiba- tiba kondisi tubuhnya tidak stabil dan hampir terjatuh. Pandangannya perlahan kabur, tubuhnya melemah seketika dan anggota tubuh bagian perut terasa menyayat.

"Arrrgh..." Rintih Silvia seraya menahan sakit di area perutnya.

'Sakit.. mengapa semakin hari rasa sakit ini semakin terasa?', batin Silvia.

"Nyonya.. Nyonya.. bertahanlah.. saya akan membawa anda ke rumah sakit segera". Bibi Yun memapah Silvia ke kursi terdekat.

"Pengawal..!". teriak Bibi Yun pada pengawal yang ada di sekitar mansion, namun hal ini di hentikan oleh Silvia.

"Cukup Bi, tidak perlu membawaku ke rumah sakit. Bantu saja aku kembali ke kamar."

Bibi Yun memapah Silvia menaiki tangga. Ibu Yuliana dari arah kamar lantai bawah melihat kondisi Silvia langsung berlari kecil menghampiri putrinya. "Silvia.. apakah kamu baik – baik saja? Bibi Yun, bagaimana bisa kondisi putriku sampai seperti ini?". seru Ibu Yuliana panik.

"Luka yang ada dalam tubuh Nyonya muda mungkin kembali terbuka. saya akan segera menelpon dokter segera.."

Ibu Yuliana membawa Silvia menaiki tangga sementara  itu Bibi Yun menghubungi Dokter untuk segera datang memeriksa kondisi Silvia. Di saat itu, dari arah pintu datang seorang pria yang ternyata adalah Dokter Martin.

"Dokter Martin, anda datang di saat yang tepat. Kondisi Nyonya muda tiba – tiba kembali drop." Kata Bibi Yun tepat setelah pint terbuka.

"Antarkan saya menemui Nyonya Lu Bi, Nyonya harus mendapatkan perawatan segera..". segera setelah mengetahui kondisi Silvia, Dokter Martin diantar Bibi Yun melewati lantai atas  menuju kamar.