Chapter 275 - 275. Raut penyesalan Zain...!

Bukan Ludius namanya kalau kalah dalam permainan satu babak mesk itu dengan istri tercintanya, dengan nafsu yang masih memuncak tangan nakalnya menjelajahin sedikit tubuh bagian depan Istrinya meski ia telah melepas paska ciuman suaminya.

"Suamiku, uhm.. berhentilah..! bagaimana kalau nanti ada yang lihat?", tegur Silvia sebelum Ludius berbuat lebih jauh, karena Silvia tahu betul bagaimana Ludius kalau sudah mulai pantang untuknya berhenti apalagi di tengah jalan.

"Sayang.. ini hanya permainan kecil yang tidak sampai ke bawah kok! Tenang saja, kalau pun ada yang melihat ya.. biarkan saja". Balas Ludius cuwek.

"Tapi Sayang, kita harus segera terbang ke Jeju island! Apa kau ingin kita terlambat ke acara pernikahan Tuan Kim Lion?". Kata Silvia mengingatkan,

"Jangan khawatir istriku, kita pasti akan sampai di Jeju Island tepat waktu. Longshang sudah menyiapkan pesawat jet untuk mengantar kita agar sampai di sana tepat waktu". Ludius terus menjawab semua sangkalan dan alasan Silvia dengan tangan masih terus menjelajahi tubuh sintal istrinya.

Terus menerus di serang tanpa ampun oleh suaminya, Silvia akhirnya PASRAH dengan kenakalan suaminya. Mau bagaimanapun ia memberontak tidak akan mempan di depan suaminya itu. Tapi ada satu hal yang membuat Ludius berhenti nakal padanya! Apakah kalian dapat menebaknya?!

Ya.. cara agar Ludius mau menunda kenakalannya adalah ketika ada orang yang memergoki mereka seperti tempo hari. Dan seperti dugaan, disaat Ludius mulai menenggelamkan wajahnya pada leher Silvia dengan tangan mulai menikmati memainkan dua buah yang begitu empuk kesukaannya terdengar langkah berat mendekat ke arah mereka.

"Sial! Bagaimana bisa aku lupa untuk menutup pintu sebelum sampai kesini. Yang akan datang pasti seorang pengganggu. Apa dia tidak tahu kalau aku sedang menikmati waktu berdua dengan istriku?". Gerutu Ludius, ia jengkel bukan main kalau benar-benar ada orang datang.

"Permisi..!" panggil suster setelah masuk dan melihat kesekililing, begitu suster melihat ke arah pasien, sontak terkejut melihat Ludius Lu sedang bermain cinta dengan seorang passien di salah satu kamar rumah sakit. "Maaf Tuan, saya akan segera pergi..". Segera setelah suster melihat hal nakal yang sedang di lakukan Ludius pada istrinya yang masih berada di ruang rawat membuat suster tersebut keluar tanpa mengatakan apapun lagi.

Melihat suster yang memergoki kenakalannya pergi dengan tunggang langgang membuatnya ingin -sekali tertawa, namun Ludius yang masih bermain dengan istrinya menghentikan kenkalannnya begitu Silvia mendorongnya mundur.

"Ludius! Dasar tak tahu malu!". Silvia mendengus kesal, ia mengusap bibirnya dengan kasar. "Kau baru saja membuatku malu 2 kali dalam sehari. Apa kau tahu!!". Cecar Silvia.

Kemarahan Silvia cukup membuat Ludius menghentikan kenakalannya, ia beranjak dari sisi Silvia dan melangkah mundur untuk menjaga jarak. "Sayang maafkan aku yang telah mencuri ciumanmu. Sebagai permintaan maaf, kita akan keluar dan terbang ke Jeju untuk menghadiri Pernikahan Tuan Kim Lion. Aku sudah menyiapkan kejutan untukmu". Bujuk Ludius dengan wajah memelas pada istrinya yang tengah marah,

"Benarkah?" Tanya Silvia memastikan dengan mensungutkan bibirnya, ia beranjak duduk membuang muka dari Ludius yang terus memperhatikannya.

"Iya sayang, ayo kita keluar..!". Ludius mengulurkan tangannya dengan senyum hangatnya.

'Syukurlah kamu baik-baik saja Sayang, setidaknya untuk saat ini sampai aku menemukan cara untuk menyembuhkanmu'. Batin Ludius, perasaan bersalah dan takut kehilangan terus menyelimuti hati Ludius meski ia terus menunjukkan sikap jahil dan tenangnya di depan istrinya.

Dengan perasaan malu karena telah marah tak jelas pada suaminya membuat Silvia menerima uluran tangan Ludius tanpa memandang wajahnya alih-alih masih marah terhadap sikap Ludius yang seenaknya saja.

Begitu Silvia menerima uluran tangannya, Ludius tersenyum simpul dan menarik tubuh Silvia kedalam dekapannya. Tanpa menunggu reaksi dari Istrinya Ludius menggendongnya keluar dari ruang periksa. "Kamu masih sakit sayang, jadi biarkan aku menggendongmu". Ujar Ludius dengan senyuman.

Semburat kemerahan terpancar di wajah pucat Silvia begitu melihat banyak orang yang memperhatikan mereka. "Suamiku, ini terlalu memalukan. Lihatlah banyak orang yang memperhatikan kita", bisik Silvia. Ia menyembunyikan wajahnya di sela dada bidang dengan kedua tangan mengalung di leher suaminya.

"Biarkan saja! Bukankah mereka sudah pernah melihat yang lebih jauh dari ini. Untuk apa harus malu".

"Dasar muka TEBAL..!!!". dengus Silvia kesal.

Tepat di depan ruang periksa terlihat Wangchu, Emilia serta pria yang terlihat putus asa tengah duduk menunduk menyembuyikan wajahnya.

"Zain..!". celetuk Silvia lirih di saat ia memalingkan wajahnya dan tanpa sengaja melihat keadaan Zain yang sedang tertunduk.

Mendengar suara lirih Silvia, Zain yang masih terdiam menengadahkan wajahnya dan memandang ke asal suara. Sedikit lega melihat Silvia baik-baik saja, setidaknya perasaan bersalah yang menghantui sdikit berkurang. "Silvia, kau baik-baik saja?" tanya Zain dengan wajah sendu. Ia beranjak dari duduknya dan mneghampiri Silvia yang masih dalam gendongan suaminya.

"Kau tak perlu mengatakan apapun, Silvia sekarang baik-baik saja! Kau boleh pergi!". Usir Ludius secara halus sembari menatap tajam lawan bicara.

"Aku tidak sedang berbicara denganmu, ini adalah pembicaraanku dengan Silvia". Sergah Zain.

"Berhentilah untuk menjelaskan apapun, Silvia masih syok dan membutuhkan waktu untuk istirahat. Jika kau ingin mengatakan sesuatu tunggu sampai kami kembali". Sindir Ludius

"Tapi Ludius, Zain terlihat tidak baik-baik saja. Sebenarnya ada apa dengannya?", tanya Silvia penasaran.

"Dia hanya aku harus menyesal karena tidak menjagamu dan akhirnya kamu terluka. Coba saja kalau dia melakukan tugasnya dengan benar! Kam tidak akan sampai seperti ini kan sayang..".

"Berhentilah untuk jahil seperti itu pada orang lain suamiku, dia sudah menyesali perbuatannya. Jangan kamu hukum perasaannya seperti itu".

"Biarkan saja, anggap saja ini sebagai peringatan untuk tidak sembarangan menyukai istri orang. Sudahlah! Jangan bahas dia lagi, kamu masih ada di gendonganku!". Agaknya Ludius marah mendengar pembelaan Silvia pada Zain. Dia seketika diam seribu bahasa dan membawa Silvia meninggalkan rumah sakit menuju rumah untuk berganti pakaian sebelum akhirnya pergi ke landasan udara.

***