Chapter 49 - PERGI KE KOREA, BAGIAN 4 Jeju

Name:Nuansa Author:Sihansiregar
Setelah belasan jam perjalanan, Neptunus dan Nuansa akhirnya sampai di Korea, tepatnya di Kota Jeju. Mereka masih berada di Jeju International Airport, dan ini sudah tengah malam di Jeju.

Nuansa terlihat sangat mengantuk, sementara Neptunus tidak, sebab selama di pesawat, Neptunus hanya tidur, sedangkan Nuansa asyik mengobrol dengan Taehyung, sampai mulut keduanya pegal dan bahkan mungkin sudah melebar.

Neptunus pun terpaksa berjalan sambil menuntun Nuansa dan menarik koper mereka hanya dengan dua tangannya. Mau bagaimana lagi, Nuansa dari tadi tidak bisa sadar sepenuhnya karena rasa kantuknya yang teramat sangat.

Setelah keluar dari dalam bandara, Neptunus pun lantas memesan sebuah taksi untuk mempercepat dirinya dan Nuansa sampai ke hotel terdekat.

Selama dalam perjalanan menuju hotel, Nuansa tertidur pulas, gadis itu terlihat agak menggigil saat tertidur, Neptunus yang melihat kekasih sewaannya itu menggigil pun dengan cepat langsung memeluknya agar Nuansa merasa lebih hangat dan tidurnya menjadi lebih nyenyak. Dan benar saja, setelah Neptunus memeluknya, Nuansa merasa lebih hangat, buktinya ia berhenti menggigil dan tidurnya tampak lebih pulas.

Entah kenapa memeluk Nuansa seperti ini membuat Neptunus merasa sangat nyaman, terlebih lagi Nuansa sangat wangi, jadinya Neptunus seperti tidak ingin untuk melepaskannya.

Mereka akhirnya sampai di hotel, dan Neptunus masih memeluk Nuansa, hal itu ternyata tidak membuatnya ikutan tertidur, karena ia tahu, kalau dirinya sampai terlelap, maka semuanya akan menjadi kacau.

"Nuansa, hei, bangunlah," ucap Neptunus yang berusaha untuk membangunkan Nuansa karena mereka sudah sampai di hotel, namun Nuansa tidak bangun, dan ini membuat Neptunus menjadi merasa serba salah.

Pria itu merasa tidak enak untuk membangunkan gadis tersebut, karena Nuansa tidur dengan sangat nyenyak dalam pelukan Neptunus, namun jika Neptunus tidak membangunkannya, tidak mungkin kan mereka akan berada di dalam taksi terus. Dengan berat hati, Neptunus pun kemudian membangunkan Nuansa lagi.

"Kau mau bangun atau kutinggal di sini?" bisik Neptunus.

"Hm?" Nuansa langsung terbangun begitu mendengar bisikan itu, tapi tentu saja ia belum sadar sepenuhnya, gadis itu terlihat linglung begitu tersadar. "Ada apa?" tanya Nuansa sembari melepaskan pelukan Neptunus darinya.

"Kita sudah sampai di hotel, ayo masuk," ujar Neptunus.

"Hm? Oh, iya?" kata Nuansa dengan mata yang setengah terbuka, Neptunus sadar bahwa gadis itu belum sadar sepenuhnya, bahkan Nuansa terlihat akan tidur lagi sebab tubuhnya hampir roboh tadi.

Neptunus pun hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat Nuansa seperti itu, namun ia membiarkannya selama ia mengeluarkan koper mereka. Setelah Neptunus mengeluarkan kopernya dan koper Nuansa, ia mengeluarkan Nuansa dari dalam taksi tersebut.

"Hm?" ucap Nuansa yang dari tadi hanya bisa bilang hm hm hm karena tingkat kesadarannya hanya 30%. Neptunus lalu membayar ongkos taksi tersebut kepada sopirnya, setelah itu, taksi tersebut pun pergi.

"Kita di hotel?" tanya Nuansa setelah taksi tadi pergi.

"Ya," jawab Neptunus.

"Huh?!" Gadis itu tiba-tiba sadar sepenuhnya. Melihat Nuansa tersadar, Neptunus pun melepaskannya agar dia berjalan sendiri, dan Neptunus menarik koper mereka.

Neptunus lantas berjalan menuju Resepsionis, meninggalkan Nuansa di depan pintu dalam kebingungan. Nuansa lalu berlari menyusul Neptunus.

"Hei! Kau ini, main pergi saja!" sewot Nuansa.

"Siapa suruh kau kebingungan seperti tadi?" ucap Neptunus.

"Ish!" gerutu Nuansa.

"Jam berapa ini?" tanya Nuansa.

"Jam setengah dua," jawab Neptunus.

"Jadi kita sudah di Korea?"

"Kau tidak melihat sekelilingmu? Apa orang-orangnya sama dengan orang-orang Indonesia?"

"Oh, iya, hehehe."

"Sejak kapan kita sampai?" lanjut Nuansa.

"Kenapa memangnya?" Neptunus bertanya balik.

"Di mana Taehyung?"

"Kenapa memangnya?"

"Ih! Kau ini! Dia itu terpisah dari orangtuanya! Makanya aku khawatir padanya."

"Dia sudah bertemu dengan orangtuanya."

"Benarkah?"

"Ya."

"Hmm."

"Kalau tidak percaya yasudah."

Mereka akhirnya sampai di meja Resepsionis.

"Dia turun bersama kita tadi?" tanya Nuansa.

"Ya," jawab Neptunus.

"Kau bertemu dengan orangtuanya?"

"Ya."

"Ah! Tolong, serius!"

"Aku serius."

"Kau kan tidak menyukainya, mana mungkin kau menunggu sampai orangtuanya datang, kalau bisa kau biarkan dia terkunci di toilet, iya, kan?"

"Heh, aku tidak sejahat itu."

"Benarkah?"

"Aku tadi menemaninya, Nuansa, sampai orangtuanya datang. Kau hanya tertidur dan baru bangun sekarang."

"Bisakah aku mempercayaimu?"

"Kenapa kau begitu khawatir padanya?"

"Dia itu punya 10 adik, setiap dua dari adiknya adalah kembar, jadi orangtuanya lebih memperhatikan adik-adiknya dari pada dia, makanya dia sampai terpisah dari keluarganya saat mereka akan kembali ke Korea," papar Nuansa.

"10 adik?"

"Ya."

Neptunus lantas menatap Nuansa. "Tapi dia masih 7 tahun."

"Entahlah, mungkin orangtuanya ingin agar anak-anaknya membentuk klub sepakbola bersaudara, hahaha," ujar Nuansa. "Ngomong-ngomong, adiknya laki-laki semua, jadi kau bisa membayangkan bagaimana repotnya orangtuanya, anak laki-laki lebih lasak dari pada anak perempuan, kan? Jadi wajar saja jika dia sampai tertinggal seperti itu," sambung Nuansa.

"Kau percaya pada ceritanya?"

"Tentu saja, itu masuk akal untuk menjadi alasan kenapa dia sampai tertinggal seperti itu. Kau tahu? Aku sangat sedih padanya karena dia menceritakan padaku kalau dia merasa tidak dipedulikan sebagai anak, dia merasa kalau dirinya seperti dianggap tidak ada. Oh, aku paham perasaannya, dia baru berusia tujuh tahun, jadi wajar saja dia merasa seperti itu, jadi selama dalam perjalanan, aku berusaha untuk membuat dirinya merasa disayangi, karena dia bilang, dia merasa kalau orangtuanya lebih sayang pada adik-adiknya dari pada dirinya, tapi aku mengerti, sebenarnya tidak seperti itu, tentu saja, kan?"

"Ya, wajar saja jika dia merasa seperti itu, tapi apa kau percaya adiknya sepuluh? Laki-laki semua? Dan setiap dua dari mereka adalah kembar?"

"Kau bilang tadi kau bertemu dengan orangtuanya, rasanya tidak mungkin orangtuanya menjemput dia tanpa membawa anak-anaknya yang lain."

"Ya, ayahnya memegang dua anak yang kembar, ibunya memegang dua anak kembar lain, jadi kupikir dia hanya memiliki empat adik, tapi rupanya sepuluh ya."

"Mungkin saja yang enam lagi sedang di rumah."

"Kurasa tidak."

"Huh?"

"Yang enam lagi sedang manggung, mereka mengambil job sampingan sebagai sebuah boyband bersaudara."

"Hahahaha, kau ini bisa saja," kata Nuansa sembari menyenggol bahu Neptunus, Neptunus lantas terkekeh sambil menyenggol bahu Nuansa balik, dan hal itu membuat Nuansa kehilangan keseimbangan dan hampir saja jatuh.

"Ih! Kau ini!" gerutu Nuansa.

"Hahaha." Neptunus malah semakin merasa geli gara-gara Nuansa hampir jatuh tadi. Jahat sekali.

"Tapi ... kau benar-benar memastikan kalau dia sudah dijemput oleh orangtuanya, kan?" tanya Nuansa.

"Iya, Nuansa sayang, kau ini kenapa tidak percaya padaku? Petugas keamanan bandara bahkan sampai turun tangan tadi," ucap Neptunus.

"Oh, ok, hehehe."

"Sekarang aku bisa memesan kamar hotel untuk kita, kan?"

"Silakan, hehehe."