Chapter 23 - Alkohol

Name:Nuansa Author:Sihansiregar
Neptunus dan Nuansa akhirnya sampai di rumah Emma pada malam hari karena jalanan benar-benar macet tadi. Halaman rumah Emma yang luas dipenuhi oleh mobil-mobil dan moge-moge. Neptunus dan Nuansa lantas keluar dari dalam mobil.

"Mendung," ucap Nuansa seraya melihat ke langit.

"Padahal ini sudah malam, tapi kau tahu ini mendung?" ujar Neptunus.

"Tentu saja, bulan dan bintangnya tidak kelihatan."

"Hmm, begitu, ya?"

"Ngomong-ngomong, apa tidak masalah jika kita langsung masuk? Maksudku, tidak ada satpam di sini."

"Kau tidak lihat? Rumah ini berada di sebuah komplek besar, satpamnya berada di pintu masuk sana tadi."

"Jadi rumah ini tidak perlu satpam lagi?"

"Kenapa kau terlihat sangat khawatir?"

"Kita masuk seenaknya saja tadi, seperti etika bertamu itu tidak ada."

"Hei, kita sedang diundang dalam sebuah pesta, bukan bertamu."

"Tapi itu sama saja, kan?"

"Sudah, kau tenang saja, semua yang datang ke sini sekarang juga tidak melakukan permisi sebelum masuk, lagi pula harus permisi dengan siapa? Orang-orang di dalam semua, jarak satu rumah ke rumah lain ratusan meter."

"Hmm, baiklah. Tapi aku masih bingung, aku harus bersikap bagaimana padamu di hadapan mereka?"

"Bersikap santai saja, jangan mengejekku, bersikaplah seperti kau adalah orang tersantai di dunia karena merasa biasa saja setelah mendapatkan hati seorang pria yang digilai para gadis."

"Ok, itu cukup mudah walaupun terdengar sulit."

"Kau juga harus tenang, sifatmu adalah tenang."

"Hei, aku tidak mau berpura-pura."

"Ah, terserah kau saja, tapi untukku, di hadapan mereka, kau harus melakukan apa yang kukatakan tadi."

"Ok, kau tenang saja."

"Bagus," kata Neptunus sambil mengajak Nuansa untuk bergandengan tangan.

"Bisa kita masuk sekarang?" ujar Nuansa yang tidak mengerti kode dari Neptunus.

'Selalu seperti ini. Kenapa dia tidak mengerti cara pasangan romantis berjalan?' batin Neptunus.

Baru saja Neptunus akan menjawab Nuansa, namun tiba-tiba sebuah musik EDM dimainkan dengan sangat keras, pertanda pestanya telah dimulai.

"Pestanya telah dimulai, ayo kita masuk!" seru Neptunus.

"HAH?!" teriak Nuansa, musiknya terlalu berisik sampai ia tidak bisa mendengar seruan Neptunus.

"AYO KITA MASUK!" Neptunus mengulangi seruannya.

"OK. KENAPA MUSIKNYA KERAS SEKALI?! APA INI TIDAK MENGGANGGU KENYAMANAN PENDUDUK DI KOMPLEK INI?!"

"HAH?!"

"KENAPA MUSIKNYA KERAS SEKALI?! APA INI TIDAK MENGGANGGU KENYAMANAN PENDUDUK DI KOMPLEK INI?!"

"HAH?! APA YANG KAU KATAKAN?! AKU TIDAK DENGAR!"

"HAH?!"

"APA?!"

"HAH?!"

"HAH?!"

"AKU TIDAK DENGAR! APA YANG KAU KATAKAN?!"

Musiknya semakin keras.

"APA?!"

Keduanya akhirnya memutuskan untuk menutup telinga mereka karena musik yang kelewat keras itu. Beberapa detik kemudian musiknya mulai pada volume yang normal, Neptunus dan Nuansa pun melepaskan tangan mereka dari telinga masing-masing.

"Fyuh. Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa musiknya keras sekali?" ucap Nuansa.

"Sepertinya ada kesalahan pada volumenya," kata Neptunus.

"Hm, mungkin saja, mengingat itu sangat keras tadi."

"Baiklah, ayo kita masuk." Malas merasa kesal lagi karena Nuansa tidak peka, Neptunus akhirnya meraih tangan gadis itu dan menggandengnya, membuat dua sisi pipi Nuansa memerah merona karena baru ini ia menggenggam tangan Neptunus yang berotot.

Neptunus pun tiba-tiba merasa malu-malu kucing dengan alasan yang tidak jelas. Keduanya berjalan perlahan menuju pintu dengan saling memalingkan wajah.

"Eeeh, kau langsung bisa berjalan menggunakan high heels?" tanya Neptunus yang mencairkan suasana antara dirinya dan Nuansa setelah keduanya tiba-tiba menjadi M3, malu-malu monyet.

"Oh, ya? Aku pun baru sadar," ujar Nuansa yang entah kenapa jadi kaku. Gadis itu tiba-tiba berhenti dan mengendus-endus tidak jelas.

"Tunggu, bau apa ini?" tanya Nuansa.

Neptunus lantas ikut-ikutan mengendus agar bisa menjawab Nuansa.

"Ini bau alkohol," jawab Neptunus.

"Alkohol?"

"Ya."

"Kenapa ada alkohol di sini? Dan sepertinya dalam jumlah yang banyak, sedang tumpah, karena baunya sangat menyengat."

"Tidak, mereka sedang berpesta alkohol di dalam."

"Apa?"

"Ya, kenapa?"

"Kau bilang kita akan ke sebuah pesta ulang tahun, kan?"

"Ya, tentu saja."

"Lalu kenapa kita malah pergi ke klub malam seperti ini?"

"Aku tidak mengerti, ini adalah pesta ulang tahun, bukan klub malam."

"Tapi bukankah pesta ulang tahun itu seharusnya dilengkapi dengan acara tiup lilin, potong kue, nyanyian dan banyak balon? Maksudku, tadinya aku berpikir kalau Emma menyewa seorang DJ untuk membuat musik 'Happy Birthday', tapi setelah mencium bau alkohol ini, aku baru sadar, rumah ini tidak sedang dalam suasana pesta ulang tahun. Kenapa musik yang dimainkan bukan musik 'Happy Birthday'? Di mana hiasan dari pita dan balon?"

"Kau pikir usia Emma itu berapa? Tiga tahun? Dua?"

"Huh?"

"Ini adalah pesta ulang tahun untuk orang dewasa, semua yang hadir juga sudah lebih dari 18 tahun. Kau tidak akan menemukan balon dan pita di pesta ulang tahun seperti ini, kue dan tiup lilin tetap ada, tapi tetap ada perbedaan yang jauh dari pesta ulang tahun anak-anak dan orang dewasa."

"Tapi, aku baru tahu pesta ulang tahun orang dewasa itu seperti ini."

Neptunus lantas hanya memutar kedua bola matanya. Ia lalu hendak kembali melanjutkan langkahnya, namun Nuansa tidak mau bergerak.

"Kenapa?" tanya Neptunus.

"Aku di sini saja," ujar Nuansa.

"Hei, tidak akan ada hal buruk di dalam, hanya ada kehidupan orang dewasa. Kau sudah berusia 21 tahun, kan? Tidak apa bagimu untuk bergabung."

"Ini bukan gaya hidup yang baik, dan kenapa pesta ulang tahun dicampur dengan klub malam? Aku tidak ingin terkontaminasi, kau masuk saja sendiri tanpaku." Nuansa kemudian melepaskan tangan Neptunus.

"Aku membayarmu salah satunya untuk menjadi pendampingku dalam sebuah pesta, kau tidak boleh seperti ini!" sewot Neptunus.

"Potong saja gajiku sampai 90%, asalkan kau tidak mengajakku masuk."

"Tidak boleh begitu! Aku juga harus memperkenalkanmu kepada teman-temanku, aku menyewamu juga karena mereka menerorku dengan pertanyaan 'mana gandengan barumu?'!"

"Tidak, tidak."

"Aku tidak ingin marah sekarang, Nuansa. Jadi ikuti aku, aku membayarmu," ucap Neptunus seraya kembali meraih tangan Nuansa.

"Aku bilang tidak, ya tidak!" Nuansa menepis tangan Neptunus.

"Aku sudah dewasa dan aku bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah! Justru karena aku sudah dewasa makanya aku tidak mau ikut bergabung dengan hal negatif seperti ini!" lanjut Nuansa.

"Kenapa kau tidak mengerti?!"

"Aku mengerti! Ini salah, Neptunus! Hal seperti tidak seharusnya kau ikuti hanya untuk gaya-gayaan!"

"Aku tidak ikut-ikutan dan aku tidak gaya-gayaan! Dan tidak ada yang salah di sini, kau lah yang salah!"

"Kalau begitu masuk saja, gaya hidup kita berbeda, sepertinya tidak bisa disamakan," ujar Nuansa.

"Grrrh! Baiklah! Dan ingat, gajimu kupotong 90% untuk hari ini sesuai dengan yang kau katakan tadi!"

"Baiklah."

Neptunus lantas pergi masuk dan meninggalkan Nuansa sendirian di antara banyak kendaran yang terparkir di halaman rumah itu.