71 Bab 70 : Ancaman Google

Keesokan harinya, pukul 9 pagi, Daniel sudah berada di kantor Sky Technology. Dia menunggu kedatangan Sundar dan Sergey Brin.

Tak butuh waktu lebih lama, Sundar dan Sergey Brin sudah datang bersama dengan Lia Siyu.

"Selamat pagi, Mr. Sundar, Mr. Brin," sapa Daniel dengan tenang pada keduanya.

"Silakan duduk, mari dengarkan apa keinginan kalian berdua," lanjut Daniel.

Keduanya bersalaman dengan Daniel kemudian duduk. Sundar berkata, "Mr. Daniel, kedatangan saya ke sini adalah mengakusisi seluruh perusahaan Sky Technology ini, beserta dengan seluruh karyawannya. Kemarin, saya datang hanya ingin aplikasi asisten pintar "Teteh", tapi saya berubah pikiran setelah melihat Anda."

Daniel masih tenang mendengarkan ocehan dari Sundar.

"Berapa harga yang bisa Anda keluarkan untuk perusahaan 'kecil' ini?" tanya Daniel.

"US$500 Juta!" ucap Sundar dengan tegas. Kemudian, dia berkata, "sejujurnya, harga itu terlalu tinggi untuk sekelas perusahaan berbasis internet seperti ini. Tapi, karena spesialnya dirimu, aku mengeluarkan harga ini."

Sergey Brin yang ada di sampingnya memberikan tatapan setuju kepada Sundar. Menurutnya, perusahaan ini masihlah perusahaan muda yang bisa bubar kapan saja jika diterjang oleh 'ombak'.

Di belakang Daniel, wajah Lia Siyu sudah tidak tenang lagi, ia merasa kesal karena perusahaan yang dia pimpin diejek oleh kedua orang itu.

Sementara Daniel masih menatap keduanya dengan tenang. Dia mengetuk satu jarinya ke meja, lalu berkata, "Jika aku menolak?"

"Maka 'Teteh' akan dinilai rentan oleh Android," kata Sundar santai sambil menyeruput teh yang baru datang.

"Maka keputusanku adalah menolaknya," jawab Daniel dengan tegas.

"Apa kau tak takut dengan konsekuensinya?" nada Sundar mulai meninggi setelah mendapatkan penolakan dari Daniel.

"Apa yang perlu ditakutkan oleh penolakan Android terhadap Teteh?" tanya Daniel tersenyum.

"Berpikir untuk menjual kepada Apple atau perusahaan lainnya di AS? Bermimpilah. Bahkan jika kau menjualnya pada Apple, kami bisa membaginya masing-masing untuk kami karena itu adalah kepentingan bagi negara Amerika Serikat, bukan hanya untuk perusahaan pribadi semata. Asal kau tau saja, sistem di tempat kami lebih kompleks dibandingkan dengan yang ada di negaramu," jawab Sundar sambil tertawa, tawanya itu ditujukan untuk meremehkan Daniel.

"Lalu, kau pikir Indonesia lima tahun kedepan akan kalah dari Amerika Serikat? Lihatlah akibatnya jika kau meremehkan Indonesia," suara Daniel sangat dingin. Ini semua dipengaruhi oleh pita suara yang didapatkannya, suaranya menjadi lebih dalam lagi dalam menyampaikan emosinya.

Sundar dan Sergey Brin sempat bergidik, tapi setelah beberapa saat, keduanya kembali tenang. Dengan nada mengejek Sundar berkata, "Jika saja Presiden terkorup di dunia tidak korupsi pada masa jabatannya, maka negaramu ada kesempatan untuk mengejar ketertinggalan. Sayangnya dia telah melakukan korupsi yang merugikan negara dalam jangka waktu panjang. Teruslah bermimpi, Nak!"

"Tidak hanya itu, masyarakat negaramu sangatlah mudah dipengaruhi oleh orang luar jika itu menyangkut soal agama. Belum lagi terlalu memakan informasi palsu, bahkan sekelas CEO perusahaan pun bisa disinformasi mengenai negaranya ssndiri. Ditambah dengan minat baca masyarakatnya yang rendah, hanya menunggu ombak besae datang untuk menghapusnya," kata Sergey Brin dengan ekspresi ironis melihat kepada Daniel.

Crack!

Suara kayu retak terdengar, tempat di mana suara itu terdengar ada di tempat di mana Daniel mengetukkan jarinya.

"Anak muda tetaplah anak muda," lanjut Sergey Brin, kemudian menyeruput tehnya.

Meskipun berkata dengan tenang seperti itu, sebenarnya dia merasakan ketakutan. Bagaimana tidak, kayu yang tebalnya belasan centi meter dengan mudah diretakkan oleh Daniel dengan satu jari. Alasan dia langsung meminum tehnya setelah berbicara adalah untuk menutupi kegugupannya, begitu juga yang di rasakan oleh Sundar.

Daniel menghirup napas dalam-dalam, kemudian menghembuskannya. Emosinya yang terkumpul sudah berhasil ditenangkannya. Dia berkata, "Tapi, kalian melupakan satu hal penting dari masyarakat Indonesia."

"Silakan keluar," kata Daniel dengan tenang.

"Teruslah bersikap seperti itu. Hingga suatu saat nanti, kau akan datang dan memohon kepada kami untuk membeli perusahaanmu," ucap Sundar dengan tenang, kemudian berdiri dan berjalan pergi meninggalkan ruang pertemuan.

"Selamat tinggal, bos kecil," kata Sergey Brin, kemudian juga berdiri dan meninggalkan ruang pertemuan.

Setelah pintu tertutup, Lia Siyu yang diam meluapkan seluruh emosinya. Bahkan Daniel terkejut melihat betapa emosinya Lia Siyu saat ini.

Daniel tersenyum memperhatikan bagaimana Lia Siyu meluapkan seluruh emosinya.

....

"Rencana kita gagal! Bocah itu keras kepala sekali!" keluh Sundar sekaligus meluapkan kekesalannya saat berada di mobil.

"Sudah kubilang kalau bocah itu bukan bocah biasa. Kurasa rencana itu adslah satu-satunya cara," kata Sergey Brin menghela napas, "kita akan kehilangan satu orang jenius lagi," lanjutnya.

"Ya, hanya dengan rencana itu," jawab Sundar dengan senyum dingin. "Aku tak akan memberinya ampunan meskupun memohon-mohon kepadaku," lanjutnya.

....

"Red kecil," panggil Daniel. Tak lama kemudian, sosok gadis kecil di layar holografik jam tangan pintar Daniel muncul.

"Iya, Kakak?" tanya Red Queen.

"Lakukan perawatan darurat pada aplikasi 'Teteh'. Perbarui fitur-fiturnya, terutama pada fitur obrolan dan fitur kontrol suara. Karena pembaruan dari aplikasi ini, harga berlangganan untuk wilayah Amerika Utara dinaikkan menjadi US$100/bulan. Untuk wilayah lain, tetap pada harga diskon 10%. Untuk wilayah Indonesia, diskon jadi Rp.20.000/bulan," perintah Daniel pada Red Queen.

Alasan mengapa ia menaikkan harga di wilayah Amerika Utara adalah karena Google memberikan pengumuman bahwa aplikasi 'Teteh' rentan akan penyerangan virus dan hal lainnya pada Android. Hal itu memicu perdebatan antar pengguna yang pro dan kontra terhadap pengumuman Google tersebut.

Pihaknya sendiri sudah memberikan pengumuman di website resminya bahwa 'Teteh' adalah aplikasi yang sangat aman digunakan oleh pengguna.

"Baik, Kak," jawab Red Queen lalu memberikan hormat dengan tubuh mungilnya, tak lama kemudian dia menghilang dari layar holografik.

Daniel tersenyum melihat tingkah lucu dari Red Queen ini.

....

Empat hari kemudian.

Daniel telah pulang dari sekolahnya dan langsung ke ruang bawah tanahnya. Dalam beberapa hari terakhir, dia telah berhasil menyelesaikan misi-misi kecil dan misi minggian dari sistem. Meskipun hadiahnya hanya poin sistem dan sekali undian, itu masih cukup berguna baginya untuk membeli bahan dan barang-barang biasa di toko sistem. Hasil yang didapatkan dari undian adalah Kacamata Pintar V2. Untuk bentuk dan ukuran dari Kacamata Pintar V2 ini bisa disesuaikan sesuai keinginan pengguna dan fitur di dalamnya sangat kaya. Saat ini, Daniel menggunakan Kacamata Pintar V2.

[Misi Acak telah didapatkan]

Notifikasi sistem membangunkan Daniel dari penilitiannya tentang mini reaktor layaknya dibuat oleh Tony Stark.

"Misi apa kali ini?" tanya Daniel dalam benaknya.

[Selamatkan dirimu dan keluargamu dari Pembunuh Bayaran!]

"Pembunuh bayaran?!" seru Daniel yang kemudian wajahnya menjadi dingin. "apakah ini langkah lain dari Google?" gumam Daniel sambil memikirkan sesuatu.

[Selamatkan dirimu dan keluargamu dari Pembunuh bayaran | Tipe : Misi Acak]

Penjelasan : Seseorang telah memerintahkan salah satu organisasi pembunuh bayaran terkenal di dunia untuk membunuhmu atau orang terdekatmu. Teruslah waspada dan kalahkan pembunuh bayaran ini.

Kondisi Keberhasilan : Host selamat.

Kondisi Kegagalan : Host Mati.

Hadiah :

1) Pokok : 25.000 Poin Sistem, 1x Undian, 1x SkyPhone.

2) Pembunuhan : Setiap seorang pembunuh bayaran dikalahkan, mendapatkam 1.000 poin.

3) Terselamatkan : Setiap orang yang bisa diselamatkan, mendapatkan 2500 poin sistem.

Hukuman : Pengurangan 5.000 poin sistem setiap kematian orang.

Daniel langsung memecahkan gelas kimia yang ada ditangannya setelah membaca isi dari misi yang ia terima.

"Host, tenanglah," suara Sky terdengar dipikiran Daniel untuk menenangkannya. "bernapaslah seperti air mengalir, di sore hari, berwarna biru, sebiru hatiku," lanjutnya sambil bernyanyi.

"Sky!" teriak Daniel kesal. Meskipun begitu, amarah di hatinya sudah mulai tenang.

"Oh, Host, kita bertemu lagi," sapa Sky.

Daniel menghela napasnya. Dia berkata, "Sejak pembaruan sistem, kita bisa berkomunikasi setiap hari. Tak perlu sapaan seperti itu."

"Ngomong-ngomong, terima kasih untuk lagunya," lanjut Daniel tersenyum, kemudian merapikan pecahan kaca yang ada di lantai.

"Tidak apa-apa, sudah tugasku bernyanyi, apalagi suaraku yang indah nan mempesona ini bisa direkam, maka itu akan menjadi penyanyi yang hits di kancah musik Indonesia dan Internasional," kata Sky dengan gaya narsisnya seperti biasanya.

"Tak bisakah kau menghilangkan sikap narsismu itu?!" protes Daniel.

Bukannya berhenti, Sky malah menyerang Daniel kembali, "Bukannya Host juga narsis?"

"Uh — itu tak seperti yang kau pikirkan," Daniel merasa bahwa dia tak bisa lagi berargumen dengan Sky.

"Host, sebaiknya kau berhati-hati. Kali ini, mereka benar-benar menargetkanmu. Dan lagi, permasalahanmu dengan Google akan berbuntut panjang, kau harus butuh persiapan yang sangat banyak," ucap Sky.

"Aku tau itu," jawab Daniel tersenyum santai. Ia membuang serpihan kaca ke tong sampah dan berkata, "karena itulah aku sudah sedikit mengumpulkan poin sistem dari beberapa misi terakhir. Setidaknya, untuk persiapan awal aku sudah siap."

Melepaskan jas putihnya, Daniel berkata, "Ini pertama kalinya kau mengkhawatirkanku, Sky."

"Aku akan mati jika kamu mati, sesederhana itu," jawab Sky dengan wajah malu-malu. Daniel tentu bisa melihat ini lewat pikirannya.

....

Di sebuah rumah, malam hari, saat sebuah keluarga sedang makan malam.

"Eksekusi mereka!" kata seseorang misterius yang sedang bersembunyi di dalam rumah.

"Laksanakan!" jawab yang lainnya menanggapi orang itu.